Rabu, 20 Oktober 2010

MANCING DI SUNGAI OPAK ( Bantul / Jogjakarta )

@El Fhivi Arvianto


SENSASI STRIKE IKAN BELES



Jogjakarta... kota yang satu ini memang sangat spesial dalam hidup aku.. Enam tahun hidupku aku habiskan di kota nan bersahaja ini. Waktu enam tahun selama kuliah, bukanlah waktu yang singkat untuk mengenal segala macam tentang kota ini. Termasuk sungai-sungainya tentunya. Di manapun jejakku melangkah, pasti aku tidak pernah melupakan sungai setempat. Entah mengapa aku begitu mencintai tempat yang bernama “Sungai”...

Pagi hari Minggu pagi, setelah shalat shubuh, aku bersiap-siap dengan segala peralatan mancing untuk menyerang kerajaan ikan sungai Opak. Sungai Opak menurut para ahli geologi dan arkeologi merupakan sebuah sungai yang terbentuk dari sebuah peristiwa retakan/patahan lempeng bumi ribuan tahun yang lalu. Sederhananya, bumi retak dan membelah. Retakannya tersebut kemudian terisi aliran air dan menjadi sebuah sungai besar. Diduga, gempa bumi Jogja tahun 2006 juga akibat patahan sungai Opak yang kembali beraktifitas. Karena memang episentrum gempa berpusat di sekitar tak jauh dari sungai Opak wilayah pantai Parangtritis. Sudah sejak hari sabtu aku memang bermalam di rumah om-ku yang tinggal di Jl. Wates. Jauh-jauh hari memang aku sudah sangat merindukan trip di sungai Opak. Mengingat expedisi pertama dulu bersama teman-teman mancing dari Jogja yang gagal total. Karena dulu saat mancing di sungai Opak dalam keadaan banjir. Mudah-mudahan situasi sekarang kondusif untuk petualangan kali ini.

Ku pacu Genio-ku menyusuri jalan Parangtritis di selatan Jogja. Tak sampai satu jam, aku tiba di saluran irigasi dekat sungai Opak. Saluran irigasi ini melintasi sepanjang jalan menuju ke pantai Parangtritis. Setiap orang yang berkunjung ke Parangtritis pasti akan melihat saluran irigasi ini. Aku ingin menjajal trip di dekat pintu airnya. Kabarnya di sana banyak juga ikannya. Dengan partner mancing setiaku Risa Oi, aku mulai pasang joran di sini. Strike pertama ternyata di sambar ikan Sapu-sapu ( Hypostomus Plecostomus ).Selanjutnya ikan yang menyambar hanya ikan-ikan kecil sejenis tawes Kepek (“orang Jogja biasa menyebut wader kepek”).


Ikan Sapu-sapu (Hypostomus Plecostomus)


Dua jam di saluran irigasi, tanpa hasil yang memuaskan.. Membuat aku ingin berpindah ke spot yang lebih menantang.. Sungai Opak...!! Setelah melewati jembatan panjang sungai Opak, aku ambil jalan ke kiri (sisi timur). Setelah aku amati sepertinya ada spot yang bagus untuk di tongkrongi.


Jembatan panjang sungai Opak.. Melintasi sebuah patahan lempeng bumi..



Ketenangan dan kedamaian sungai Opak



Rakit penambang pasir.. Berkah dari sungai Opak


Apalagi disekitar pinggiran sungai banyak tanaman enceng gondok yang tumbah. Aku berharap ada sesuatu di bawah airnya. Dan benar saja, tak berapa lama tiba-tiba ada sesuatu yang menyeret mata pancingku ke dalam semak-semak rimbunnya eceng gondok. Tarikannya begitu kuat sehingga memaksa aku turun ke air dengan berbekal seser untuk menangkapnya. Mau tak mau aku harus belepotan lumpur, demi senar pancingku. Daripada semakin jauh diseret ikan dan nyangkut di rerimbunan eceng gondok. Uuupps...seekor Lele Jawa ( Clarias Batrachus ) yang nyantel di ujung kailku. Ternyata masih ada juga lele jawa yang bisa eksis di sungai ini. Lama sekali aku tak pernah menjumpai jenis lele ini. Jenis lele jawa memang sudah mendekati ambang kepunahan sejak kehadiran lele jenis Dumbo (Clarias gariepinus). Lele dari Afrika ini memang luar biasa cepat bekembang-biaknya dan besar-besar. Tak heran dalam waktu singkat lele dumbo merajai pasaran dan menjadi alternatif masyarakat dalam hal ikan lele konsumsi. Sementara lele jawa seperti terpinggirkan dan semakin tersudut eksistensi habitatnya. Karena sangat jarang ada orang mau membudidayakan lele jawa.

Kemudian setelah satu jam digenangan eceng gondok dengan hasil tangkapan satu lele jawa dan 2 ikan gabus sebesar dua jariku. Aku berpindah ke spot yang sesungguhnya. Sebenarnya aku agak pesimis, mengingat keadaan air sungai Opak yang lumayan keruh. Tapi apa salahnya di coba.?


Numpang ketawa yaa.....


Ikan Tawes Beles sungai Opak


Lele Jawa ( Clarias Batrachus )



Nilem (Osteochillus Hasselti)


Hampir empat jam hanya ikan-ikan kecil jenis waderan yang mengganggu umpan-umpanku. Tiba-tiba menjelang jam 15.00 WIB joranku melengkung dengan kuat..!! Ikan apakah gerangan.? Joranku terus melengkung seperti susah di kontrol lagi. Reel-ku bahkan sampai berbunyi berderit-derit... Aku tak mau gegabah adu kekuatan dengan strike kali ini. Aku khawatir buruanku ini malah nyeplos alias lepas.. Apalagi aku belum tahu ikan apa yang menyambar kailku. Dugaanku kalau bukan lele, baung mungkin sidat. Ketiga ikan tersebut biasanya menyambar di saat situasi air yang sedang keruh kecoklatan. Tapi tanpa di nyana, ternyata ikan jenis putihan sebesar dua telapak tanganku. Tak mau ambil resiko lepas, aku segera turun ke air menyambut dengan tangkapan seser. Ku angkat, ku amat-amati ternyata seperti ikan Tawes ( Puntius Gonionotus ) atau jenis Bader ( Puntius Balleroides ). Tapi ikan ini jelas berbeda karakteristik pada warna dan sisiknya dengan jenis Bader di tempatku. Aku tanyakan pada pemancing setempat yang mancing tak jauh dariku. Mereka bilang “itu iwak Beles mas...!!”. Aku baru dengar nama ikan ini. Entah nama lokal atau resminya. Aku juga belum tau nama scientifiknya... Atau mungkin ini jenis baru dalam genus Puntius yang belum terklasifikasi dalam catatan para ahli perikanan. Entahah...?? Yang jelas bila ikan ini memang jenis species yang baru, bisa saja nanti akan bernama Puntius Belesis... He..he..he.....

8 komentar:

  1. wah.wah sip bener....baru kali ini aku ketemu pecinta sungai...salut ternyata masih ada yang cinta sungai kayak inyong...salam kenal mas..

    BalasHapus
  2. Justru inyong sungguh tersanjung bisa kenal sama mas Eko... Ulasan-ulasan mas Eko jiaan siip tenan...Justru inyong bikin blog ini kerena sering baca blognya njenengan. Inyong pengen nimba pengalaman dari mas Eko. Mkasih atas perhatiannya mas... Salam...

    BalasHapus
  3. ikan beles di jogja udah terkenal mas coba kamu pakai umpan kepala lele yg udah di goreng dan memakai kail pancing minimal 7 kail kalau gag pakai bakwan atau mendoan pasti dijamin ikanya ketangkap tp jangan saat banjir ya

    BalasHapus
  4. Waah..wah... rumit juga mancing ikan beles yaa.. Mas remaja tinggal dmana yaa..?? Spertinya jenis ikan beles ini bru sya temuin di jogja mas.. Di daerah lain ada yg mrip beles, misal Bader, Derbang & Brek...

    BalasHapus
  5. hebat lah coy, salut jg bwt anda-anda pecinta mancing di sungai, krna aku jg sangat menciantai mancing di sungai, malahan kalau libur kerja) sabtu+minggu aku gk pernah terlewatkan untuk sekedar mancing di sungai. Bravo...sungai, perangi racun dan setrum di sungai.

    BalasHapus
  6. Wah jadi pingin mancing di sungai opak

    BalasHapus
  7. Mantaabh mas,. terimakasih sharingnya,..
    Sy juga edan mancing hampala ni,. kapan2 kalo ada kesempatan kita kopi darat,. :)

    BalasHapus
  8. aku juga tinggal disekitaran opak..cm kl ak seneng pake pelampung..klentheng (isi kapas ) maknyus bro..silahkan coba...klentheng di sebar dikit ke tengah sungai (semacam bom) setelah ikan keatas kita lempar klentheng yg udah ada kailnya...gue pernah dapet 3kg dl 1jam

    BalasHapus

Rabu, 20 Oktober 2010

MANCING DI SUNGAI OPAK ( Bantul / Jogjakarta )

@El Fhivi Arvianto


SENSASI STRIKE IKAN BELES



Jogjakarta... kota yang satu ini memang sangat spesial dalam hidup aku.. Enam tahun hidupku aku habiskan di kota nan bersahaja ini. Waktu enam tahun selama kuliah, bukanlah waktu yang singkat untuk mengenal segala macam tentang kota ini. Termasuk sungai-sungainya tentunya. Di manapun jejakku melangkah, pasti aku tidak pernah melupakan sungai setempat. Entah mengapa aku begitu mencintai tempat yang bernama “Sungai”...

Pagi hari Minggu pagi, setelah shalat shubuh, aku bersiap-siap dengan segala peralatan mancing untuk menyerang kerajaan ikan sungai Opak. Sungai Opak menurut para ahli geologi dan arkeologi merupakan sebuah sungai yang terbentuk dari sebuah peristiwa retakan/patahan lempeng bumi ribuan tahun yang lalu. Sederhananya, bumi retak dan membelah. Retakannya tersebut kemudian terisi aliran air dan menjadi sebuah sungai besar. Diduga, gempa bumi Jogja tahun 2006 juga akibat patahan sungai Opak yang kembali beraktifitas. Karena memang episentrum gempa berpusat di sekitar tak jauh dari sungai Opak wilayah pantai Parangtritis. Sudah sejak hari sabtu aku memang bermalam di rumah om-ku yang tinggal di Jl. Wates. Jauh-jauh hari memang aku sudah sangat merindukan trip di sungai Opak. Mengingat expedisi pertama dulu bersama teman-teman mancing dari Jogja yang gagal total. Karena dulu saat mancing di sungai Opak dalam keadaan banjir. Mudah-mudahan situasi sekarang kondusif untuk petualangan kali ini.

Ku pacu Genio-ku menyusuri jalan Parangtritis di selatan Jogja. Tak sampai satu jam, aku tiba di saluran irigasi dekat sungai Opak. Saluran irigasi ini melintasi sepanjang jalan menuju ke pantai Parangtritis. Setiap orang yang berkunjung ke Parangtritis pasti akan melihat saluran irigasi ini. Aku ingin menjajal trip di dekat pintu airnya. Kabarnya di sana banyak juga ikannya. Dengan partner mancing setiaku Risa Oi, aku mulai pasang joran di sini. Strike pertama ternyata di sambar ikan Sapu-sapu ( Hypostomus Plecostomus ).Selanjutnya ikan yang menyambar hanya ikan-ikan kecil sejenis tawes Kepek (“orang Jogja biasa menyebut wader kepek”).


Ikan Sapu-sapu (Hypostomus Plecostomus)


Dua jam di saluran irigasi, tanpa hasil yang memuaskan.. Membuat aku ingin berpindah ke spot yang lebih menantang.. Sungai Opak...!! Setelah melewati jembatan panjang sungai Opak, aku ambil jalan ke kiri (sisi timur). Setelah aku amati sepertinya ada spot yang bagus untuk di tongkrongi.


Jembatan panjang sungai Opak.. Melintasi sebuah patahan lempeng bumi..



Ketenangan dan kedamaian sungai Opak



Rakit penambang pasir.. Berkah dari sungai Opak


Apalagi disekitar pinggiran sungai banyak tanaman enceng gondok yang tumbah. Aku berharap ada sesuatu di bawah airnya. Dan benar saja, tak berapa lama tiba-tiba ada sesuatu yang menyeret mata pancingku ke dalam semak-semak rimbunnya eceng gondok. Tarikannya begitu kuat sehingga memaksa aku turun ke air dengan berbekal seser untuk menangkapnya. Mau tak mau aku harus belepotan lumpur, demi senar pancingku. Daripada semakin jauh diseret ikan dan nyangkut di rerimbunan eceng gondok. Uuupps...seekor Lele Jawa ( Clarias Batrachus ) yang nyantel di ujung kailku. Ternyata masih ada juga lele jawa yang bisa eksis di sungai ini. Lama sekali aku tak pernah menjumpai jenis lele ini. Jenis lele jawa memang sudah mendekati ambang kepunahan sejak kehadiran lele jenis Dumbo (Clarias gariepinus). Lele dari Afrika ini memang luar biasa cepat bekembang-biaknya dan besar-besar. Tak heran dalam waktu singkat lele dumbo merajai pasaran dan menjadi alternatif masyarakat dalam hal ikan lele konsumsi. Sementara lele jawa seperti terpinggirkan dan semakin tersudut eksistensi habitatnya. Karena sangat jarang ada orang mau membudidayakan lele jawa.

Kemudian setelah satu jam digenangan eceng gondok dengan hasil tangkapan satu lele jawa dan 2 ikan gabus sebesar dua jariku. Aku berpindah ke spot yang sesungguhnya. Sebenarnya aku agak pesimis, mengingat keadaan air sungai Opak yang lumayan keruh. Tapi apa salahnya di coba.?


Numpang ketawa yaa.....


Ikan Tawes Beles sungai Opak


Lele Jawa ( Clarias Batrachus )



Nilem (Osteochillus Hasselti)


Hampir empat jam hanya ikan-ikan kecil jenis waderan yang mengganggu umpan-umpanku. Tiba-tiba menjelang jam 15.00 WIB joranku melengkung dengan kuat..!! Ikan apakah gerangan.? Joranku terus melengkung seperti susah di kontrol lagi. Reel-ku bahkan sampai berbunyi berderit-derit... Aku tak mau gegabah adu kekuatan dengan strike kali ini. Aku khawatir buruanku ini malah nyeplos alias lepas.. Apalagi aku belum tahu ikan apa yang menyambar kailku. Dugaanku kalau bukan lele, baung mungkin sidat. Ketiga ikan tersebut biasanya menyambar di saat situasi air yang sedang keruh kecoklatan. Tapi tanpa di nyana, ternyata ikan jenis putihan sebesar dua telapak tanganku. Tak mau ambil resiko lepas, aku segera turun ke air menyambut dengan tangkapan seser. Ku angkat, ku amat-amati ternyata seperti ikan Tawes ( Puntius Gonionotus ) atau jenis Bader ( Puntius Balleroides ). Tapi ikan ini jelas berbeda karakteristik pada warna dan sisiknya dengan jenis Bader di tempatku. Aku tanyakan pada pemancing setempat yang mancing tak jauh dariku. Mereka bilang “itu iwak Beles mas...!!”. Aku baru dengar nama ikan ini. Entah nama lokal atau resminya. Aku juga belum tau nama scientifiknya... Atau mungkin ini jenis baru dalam genus Puntius yang belum terklasifikasi dalam catatan para ahli perikanan. Entahah...?? Yang jelas bila ikan ini memang jenis species yang baru, bisa saja nanti akan bernama Puntius Belesis... He..he..he.....

8 komentar:

  1. wah.wah sip bener....baru kali ini aku ketemu pecinta sungai...salut ternyata masih ada yang cinta sungai kayak inyong...salam kenal mas..

    BalasHapus
  2. Justru inyong sungguh tersanjung bisa kenal sama mas Eko... Ulasan-ulasan mas Eko jiaan siip tenan...Justru inyong bikin blog ini kerena sering baca blognya njenengan. Inyong pengen nimba pengalaman dari mas Eko. Mkasih atas perhatiannya mas... Salam...

    BalasHapus
  3. ikan beles di jogja udah terkenal mas coba kamu pakai umpan kepala lele yg udah di goreng dan memakai kail pancing minimal 7 kail kalau gag pakai bakwan atau mendoan pasti dijamin ikanya ketangkap tp jangan saat banjir ya

    BalasHapus
  4. Waah..wah... rumit juga mancing ikan beles yaa.. Mas remaja tinggal dmana yaa..?? Spertinya jenis ikan beles ini bru sya temuin di jogja mas.. Di daerah lain ada yg mrip beles, misal Bader, Derbang & Brek...

    BalasHapus
  5. hebat lah coy, salut jg bwt anda-anda pecinta mancing di sungai, krna aku jg sangat menciantai mancing di sungai, malahan kalau libur kerja) sabtu+minggu aku gk pernah terlewatkan untuk sekedar mancing di sungai. Bravo...sungai, perangi racun dan setrum di sungai.

    BalasHapus
  6. Wah jadi pingin mancing di sungai opak

    BalasHapus
  7. Mantaabh mas,. terimakasih sharingnya,..
    Sy juga edan mancing hampala ni,. kapan2 kalo ada kesempatan kita kopi darat,. :)

    BalasHapus
  8. aku juga tinggal disekitaran opak..cm kl ak seneng pake pelampung..klentheng (isi kapas ) maknyus bro..silahkan coba...klentheng di sebar dikit ke tengah sungai (semacam bom) setelah ikan keatas kita lempar klentheng yg udah ada kailnya...gue pernah dapet 3kg dl 1jam

    BalasHapus