Selasa, 26 Oktober 2010

MANCING DI SUNGAI MERAWU ( Banjarmangu / Banjarnegara )

@El Fhivi Arvianto
厄爾尼諾愛維安

WEEKEND... MANCING NILEM MUNTHU YANG EKSOTIS


Banjarmangu... Yaa di sinilah sejarah Banjarnegara di mulai. Di sebuah kota kecil ini tertulis sejarah tentang sungai Merawu. Menurut kitab kuno Babad Bajarnegara, kadipaten Banjarnegara dulu bernama Banjarmangu. Banjarmangu terletak di sebelah utara sungai Serayu dan sungai Merawu. Pada zaman dahulu, sebelum manusia sanggup membuat jembatan panjang yang bisa melintasi kedua sungai tersebut. Kadipaten Banjarmangu sering di landa masalah transportasi dan hubungan dengan pemerintahan yang membawahi kadipaten Banjarmangu, yaitu kesultanan Mataram di Jogjakarta. Seringkali transportasi dan lalulintas antar kadipaten terhambat jika kedua sungai dalam keadaan banjir. Bukan itu saja, bahkan luapan banjir kedua sungai tersebut sering melalap ratusan hektar tanaman padi milik rakyat. Bermula dari berbagai masalah yang kompleks tersebut akhirnya kesultanan Mataram waktu itu mengupayakan perpindahan ibukota kadipaten kesebelah selatan kedua sungai tersebut. Yaitu di bekas hamparan banjar (sawah) yang luas, yang sampai sekarang bernama Banjarnegara.
Tapi aku bukan mau membahas tentang sejarah Banjarnegara, aku bukan ahli di bidang sejarah... Aku mau bercerita tentang kisah petualanganku mancing di sungai Merawu. Sungai yang pernah menghancurkan peradaban Banjarmangu... Sungai Merawu bermata air di Kalibening lereng pegunungan Dieng. Sungai ini mengalir bertemu dengan sungai Kacangan yang pada akhirnya bermuara di sungai Serayu.






Pada hari minggu tanggal 24 Oktober 2010, aku merencanakan refresing sehari penuh. Mengingat sudah tiga minggu aku di sibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Rasa jenuh kadang muncul disaat bekerja, tapi mau bagaimana lagi..? Tak pernah ada waktu luang yang bisa aku manfaatkan untuk weekend seharian. Hari Minggu inilah kesempatanku untuk refresing total dari kegiatanku sehari-hari.
Sabtu malam aku bermalam di rumah mertuaku di Banjarnegara. Di butuhkan waktu satu jam untuk bisa tiba di sungai Merawu. Kali ini aku sengaja berpetualang sendirian, tanpa rekan maupun partner yang ikut bersama. Aku lagi ingin sendiri..!! Menurut kabar teman-teman pemancing, sungai Merawu banyak terdapat ikan Lempon, Nilem dan Tawes Brek. Naah, kali ini sasaran pancingku adalah Lempon...!!
Tiba di tepi sungai, ku lihat sudah ada sepuluhan pemancing beraksi. Kusapa mereka, ternyata mereka berasal dari Parakan dan Temanggung. Mereka juga mempunyai sasaran yang sama, Lempon..!!

Pemancing dari Parakan/Temanggung merangkai kail



Jadi teringat masa kecilku bermain di sungai

Tapi melihat kondisi air sungai yang agak keruh, karena semalaman hujan agak lebat, sepertinya mustahil Lempon bisa di dapat. Ku lihat mereka baru memperoleh Nilem dan Palung. Ikan Lempon mempunyai karakter agresif di saat air dalam keadaan jernih atau minimal tidak keruh. Tapi jika air keruh, jangan harap Lempon mau memakan umpan. Walaupun jika beruntung, ada juga Lempon yang lapar menyambar umpan. Tapi kemungkinan itu sangat kecil. Lempon sangat menyukai umpan lumut koncer dan roti sisir.
Aku pasang posisi di dekat lubuk (kedung) yang berair agak deras memutar. Kuperkirakan banyak ikan nilem yang mangkal disitu. Dan benar saja, belum sampai dua menit, joranku sudah di sentak seekor nilem.

Nilem Munthu.... What scientific name..?

Nilem Munthu memang mempunyai kepala seperti munthu


Nilem Munthu layak menjadi penghuni aquarium


Strike terakhir.....

Lele Dumbo (Clarias Gariephinus)

Perlu di ketahui, ikan nilem disini berbeda bentuk fisik maupun karakternya dengan ikan nilem piaraan di kolam. Ikan Nilem di sungai Merawu dan Serayu mempunyai ciri-ciri fisik yang panjang bentuk tubuhnya. Dan yang paling gampang membedakan, di lihat dari bentuk kepalanya. Kepala bagian mulut bulat seperti munthu (alat untuk menghaluskan bumbu dapur). Oleh karena itu pemancing di sekitar Wonosobo dan Banjarnegara menamakan Melem Munthu. Aku sendiri kurang tahu persis, apakah Nilem ini masih satu species dengan Nilem kolam (Osteochilus Hasselti) atau tidak..? Mengingat bentuk fisiknya saja sudah jauh berbeda, kemungkinan Nilem ini dari species yag berbeda dengan Nilem kolam. Habitatnyapun jelas berbeda, Nilem kolam menyukai air yang tenang, sedangkan Nilem munthu lebih menyukai air deras yang mengalir kencang. Sampai sekarang aku belum memperoleh keterangan maupun penjelasan yang pasti dan jelas mengenai jenis Nilem ini. Aku buka situs Fishbase-pun tidak kutemukan jenis Nilem seperti ini. Apakah Nilem ini jenis yang belum terklasifikasi..? Entahlah........


1 komentar:

  1. Coba di foto, masukkan pertanyaan ke situs fish base, kalau ikan ini belum di klasifikasikan, pasti nanti akan ada orang yang secara senang hati membantu, (secara, kalau dia bisa menemukan dan menamai species baru maka dia akan senang sekali...yup, begitulah para ilmuwan atau peneliti)

    BalasHapus

Selasa, 26 Oktober 2010

MANCING DI SUNGAI MERAWU ( Banjarmangu / Banjarnegara )

@El Fhivi Arvianto
厄爾尼諾愛維安

WEEKEND... MANCING NILEM MUNTHU YANG EKSOTIS


Banjarmangu... Yaa di sinilah sejarah Banjarnegara di mulai. Di sebuah kota kecil ini tertulis sejarah tentang sungai Merawu. Menurut kitab kuno Babad Bajarnegara, kadipaten Banjarnegara dulu bernama Banjarmangu. Banjarmangu terletak di sebelah utara sungai Serayu dan sungai Merawu. Pada zaman dahulu, sebelum manusia sanggup membuat jembatan panjang yang bisa melintasi kedua sungai tersebut. Kadipaten Banjarmangu sering di landa masalah transportasi dan hubungan dengan pemerintahan yang membawahi kadipaten Banjarmangu, yaitu kesultanan Mataram di Jogjakarta. Seringkali transportasi dan lalulintas antar kadipaten terhambat jika kedua sungai dalam keadaan banjir. Bukan itu saja, bahkan luapan banjir kedua sungai tersebut sering melalap ratusan hektar tanaman padi milik rakyat. Bermula dari berbagai masalah yang kompleks tersebut akhirnya kesultanan Mataram waktu itu mengupayakan perpindahan ibukota kadipaten kesebelah selatan kedua sungai tersebut. Yaitu di bekas hamparan banjar (sawah) yang luas, yang sampai sekarang bernama Banjarnegara.
Tapi aku bukan mau membahas tentang sejarah Banjarnegara, aku bukan ahli di bidang sejarah... Aku mau bercerita tentang kisah petualanganku mancing di sungai Merawu. Sungai yang pernah menghancurkan peradaban Banjarmangu... Sungai Merawu bermata air di Kalibening lereng pegunungan Dieng. Sungai ini mengalir bertemu dengan sungai Kacangan yang pada akhirnya bermuara di sungai Serayu.






Pada hari minggu tanggal 24 Oktober 2010, aku merencanakan refresing sehari penuh. Mengingat sudah tiga minggu aku di sibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Rasa jenuh kadang muncul disaat bekerja, tapi mau bagaimana lagi..? Tak pernah ada waktu luang yang bisa aku manfaatkan untuk weekend seharian. Hari Minggu inilah kesempatanku untuk refresing total dari kegiatanku sehari-hari.
Sabtu malam aku bermalam di rumah mertuaku di Banjarnegara. Di butuhkan waktu satu jam untuk bisa tiba di sungai Merawu. Kali ini aku sengaja berpetualang sendirian, tanpa rekan maupun partner yang ikut bersama. Aku lagi ingin sendiri..!! Menurut kabar teman-teman pemancing, sungai Merawu banyak terdapat ikan Lempon, Nilem dan Tawes Brek. Naah, kali ini sasaran pancingku adalah Lempon...!!
Tiba di tepi sungai, ku lihat sudah ada sepuluhan pemancing beraksi. Kusapa mereka, ternyata mereka berasal dari Parakan dan Temanggung. Mereka juga mempunyai sasaran yang sama, Lempon..!!

Pemancing dari Parakan/Temanggung merangkai kail



Jadi teringat masa kecilku bermain di sungai

Tapi melihat kondisi air sungai yang agak keruh, karena semalaman hujan agak lebat, sepertinya mustahil Lempon bisa di dapat. Ku lihat mereka baru memperoleh Nilem dan Palung. Ikan Lempon mempunyai karakter agresif di saat air dalam keadaan jernih atau minimal tidak keruh. Tapi jika air keruh, jangan harap Lempon mau memakan umpan. Walaupun jika beruntung, ada juga Lempon yang lapar menyambar umpan. Tapi kemungkinan itu sangat kecil. Lempon sangat menyukai umpan lumut koncer dan roti sisir.
Aku pasang posisi di dekat lubuk (kedung) yang berair agak deras memutar. Kuperkirakan banyak ikan nilem yang mangkal disitu. Dan benar saja, belum sampai dua menit, joranku sudah di sentak seekor nilem.

Nilem Munthu.... What scientific name..?

Nilem Munthu memang mempunyai kepala seperti munthu


Nilem Munthu layak menjadi penghuni aquarium


Strike terakhir.....

Lele Dumbo (Clarias Gariephinus)

Perlu di ketahui, ikan nilem disini berbeda bentuk fisik maupun karakternya dengan ikan nilem piaraan di kolam. Ikan Nilem di sungai Merawu dan Serayu mempunyai ciri-ciri fisik yang panjang bentuk tubuhnya. Dan yang paling gampang membedakan, di lihat dari bentuk kepalanya. Kepala bagian mulut bulat seperti munthu (alat untuk menghaluskan bumbu dapur). Oleh karena itu pemancing di sekitar Wonosobo dan Banjarnegara menamakan Melem Munthu. Aku sendiri kurang tahu persis, apakah Nilem ini masih satu species dengan Nilem kolam (Osteochilus Hasselti) atau tidak..? Mengingat bentuk fisiknya saja sudah jauh berbeda, kemungkinan Nilem ini dari species yag berbeda dengan Nilem kolam. Habitatnyapun jelas berbeda, Nilem kolam menyukai air yang tenang, sedangkan Nilem munthu lebih menyukai air deras yang mengalir kencang. Sampai sekarang aku belum memperoleh keterangan maupun penjelasan yang pasti dan jelas mengenai jenis Nilem ini. Aku buka situs Fishbase-pun tidak kutemukan jenis Nilem seperti ini. Apakah Nilem ini jenis yang belum terklasifikasi..? Entahlah........


1 komentar:

  1. Coba di foto, masukkan pertanyaan ke situs fish base, kalau ikan ini belum di klasifikasikan, pasti nanti akan ada orang yang secara senang hati membantu, (secara, kalau dia bisa menemukan dan menamai species baru maka dia akan senang sekali...yup, begitulah para ilmuwan atau peneliti)

    BalasHapus