Selasa, 19 Oktober 2010

MANCING DI " NEGERI di AWAN " ( Dataran Tinggi Dieng / Wonosobo )

@El Fhivi Arvianto

厄爾尼諾愛維安


HARMONI ALAM YANG MENYENTUH


Negeri di awan...? Tentu sobat angler bertanya-tanya, dimanakah tempat itu.? Itulah salah satu tempat terindah di daerahku ( bukan promosi wisata looh...!! ). Tepatnya Dieng Plateau, dataran tinggi Dieng merupakan dataran tinggi tertinggi di Jawa. Di tempat inilah legenda para dewa bersemayam. Tidak salah bila orang menjuluki Dieng sebagai negeri di awan. Karena tempat ini hampir setiap hari selalu berkabut dengan dingin yang menusuk tulang. Suhu rata-rata setiap hari adalah 5 s/d 10 derajat celcius. Atau bahkan jika malam hari kadang bisa mencapai titik beku di bawah nol. Suatu situasi yang jarang ditemukan di Indonesia. Dataran tinggi Dieng memiliki beberapa telaga. Jika di hitung tak kurang dari 4 telaga yang lumayan besar. Antara lain telaga Sembungan, telaga Balekambang, telaga Merdada dan telaga Warna. Tapi yang kusebut terakhir ini (telaga Warna) tidak bisa dipancingi. Karena memang tidak ada ikan yang sanggup hidup di telaga yang kadar belerangnya sangat tinggi. Lokasi yang pertama aku kunjungi adalah telaga Sembungan. Menurut kabar penduduk setempat di telaga itu terdapat banyak ikan Bandung (ikan Mas/Cyprinus Carpio). Orang Dieng memang banyak yang menyebut ikan mas sebagai iwak Bandung atau iwak Kalper.

Sesampai di telaga Sembungan, dari kejauhan terlihat banyak burung Mliwis (Dendragcyna Javanic) yang beterbangan di atas telaga sambil menyambar ikan kecil-kecil. Tapi jangan harap sobat mancing berburu burung-burung Mliwis ini. Penduduk sekitar dan hukum adat setempat memberlakukan sanksi denda bagi pemburu burung. Itu masih ringan, kadang masih ditambah muka pada bonyok di gebukin pemuda kampung...!!!

Seorang pemancing "ngobok" di telaga Sembungan...

Melihat kondisi air telaga, aku tercengang melihat lingkungan sekitar telaga. Kondisi telaga sangat kotor dan berbau. Itu semua karena banyak penduduk yang membuang sisa-sisa pupuk kandang ke dalam telaga. Belum lagi air telaga banyak penyusutan akibat di sedot genset petani untuk mengairi lahan pertanian. Sungguh ironis, suatu tempat yang teramat indah ini, yang seharusnya mengundang wisatawan untuk datang. Malah tidak dijaga kelestarian dan kebersihan lingkungannya. Aku sendiri sungguh merasa jijik dengan air danau yang menghitam berbau. Apakah masih ada kehidupan di dalamnya.? Ternyata beberapa pemancing lokal ada yang sudah mendapatkan ikan mas kalper.
Mereka memancing dengan cara mirip model “ngobok” atau nyebur ke air. Walau hanya sebatas pinggang. Tapi yang jelas aku tidak akan melakukan hal serupa, mengingat aku sangat jijay dengan kondisi air yang kotor. Kalau memancing dari pinggiran, jangan harap akan di sambar ikan mas. Karena ikan mas hanya berada di tempat yang dalam. Sebenarnya melempar kail dari pinggir bisa saja mencapai tengah, tapi resikonya mata kail selalu nyangkut pada tanaman ganggang yang tumbuh subur di pinggiran telaga. Aku hanya mancing di pinggiran saja, walaupun hanya rela mendapat ikan mujahir (Oreochromis Mossambicus). Ternyata di telaga ini masih bisa ditemukan habitat ikan mujahir hitam (bukan nila). Walau mata kailku berkali-kali disambar ikan, tapi hanya beberapa ikan mujahir yang bisa kuperoleh. Mengingat sasaranku bukan ikan mujahir, maka akhirnya aku lepaskan lagi ikan-ikan yang kuperoleh ke habitatnya semula.

SEJENAK MELEPAS LELAH DI TEPI TELAGA WARNA

Sebelum menuju ke telaga Merdada, aku melewati telaga Warna. Kuputuskan untuk istirahat sekaligus makan siang di kompleks tersebut. Karena di pintu masuk telaga warna memang terlihat banyak warung-warung makan. Setelah makan siang, aku berjalan-jalan disekitar telaga. Suasana semakin dingin menggigit ketika kabut mulai turun. Terlihat air telaga disisi timur yang berwarna hijau dan di sisi barat berwarna biru, sedangkan ditengah malah cenderung kemerahan. Di telaga Warna inilah legenda Jawa terjadi. Menurut mitos, telaga Warna adalah tempat mandi bidadari khayangan. Gak masuk akal yaa...??
Inilah picture-ku di sekitar telaga Warna...

Rest at Colour Lake.... Beauty nature.....


Di telaga Warna inilah legenda tempat mandi para bidadari....??
(Gak mungkin lah yaa... Temperatur air super dingin uatiiiis banget kok...)


MUNGKINKAH ADA SPECIES BARU DARI TELAGA MERDADA
...??

Selanjutnya aku melanjutkan perjalanan ke telaga Merdada. Kira-kara perjalanan sejauh 8 km, sampailah aku di tepian telaga Merdada. Melihat tekstur geografis telaga, sepertinya telaga ini terbentuk dari bekas kepundan gunung berapi yang sudah lama mati. Menurut penelitian arkeologi, dataran tinggi Dieng memang bekas gunung berapi di zaman Jawa purba.. Menurut cerita dari para pemancing di sekitar telaga Merdada. Di telaga Merdada banyak terdapat ikan Grass Karp (Ctenopharyngodon Idella). Orang Dieng menyebut “Braskap”. Menurut cerita mereka, keberadaan ikan Gras Karp ini bermula dari penebaran benih Grass Karp oleh pabrik jamur PT. DIENG JAYA yang berdiri di sekitar telaga dan dilakukan rutin setiap tahun. Tapi semenjak pabrik jamur tersebut dinyatakan bangkrut, tradisi penebaran benih terhenti. Ikan Grass Karp yang ada sekarang tinggal sisa-sisa dan hasil pengembang-biakan alami. Penebaran ikan Gras Karp di dataran tinggi Dieng bukan tanpa alasan. Mengingat kondisi alam di dataran tinggi yang mirip zona subtropis, membuat tanaman air semacam lumut atau ganggang air bisa tumbuh menyebar dengan cepat. Jika tidak ditangani dengan tepat dalam waktu singkat telaga-telaga di Dieng sudah pasti tertutup tanaman ganggang ini. Maka solusi satu-satunya adalah dengan cara penebaran predator herbivora semacam ikan Grass Karp ini. Sehingga pertumbuhan ganggang air ini bisa terkendali dengan baik dan menjadi rantai makanan yang tak terputus.

Suasana telaga Merdada yang tenang dan terkesan angker....??


Pak tua menanti datangnya ikan dengan menahan rasa dingin menggigit.


Partner mancingku, Risa Oi... Ngalamun ajaaah coy....

Sedang asyik-asyiknya ngobrol dengan pemancing lain, tiba-tiba joranku ambruk ke tanah. Dengan gerakan cepat aku menangkap joranku yang hampir terseret ke tengah telaga. Uuups.. untung masih bisa kutangkap..!! Dari kejauhan bisa kutebak strike yang kudapat. Seekor ikan Grass Karp melenting ke udara memberontak mencoba melepaskan diri dari mata kailku. Dengan perlahan, aku mengendorkan reel-ku agar ikan tidak terlalu kencang memberontak. Perlahan tapi pasti ikan bisa aku pinggirkan ke tepian. Dan dengan perlahan ikan bisa ku angkat ke daratan. Ku perkirakan beratnya sekitar 1,5 kg.. Dengan panjang sekitar 60 cm... Sementara pemancing-pemancing lain yang mancing dengan serius, mereka bisa menaikkan Grass Karp minimal dua ekor.. Sedangkan aku..? Karena lebih banyak meladeni ngobrol pemancing lain, aku tidak cukup konsentrasi terhadap joranku. Bahkan kadang umpan habis pun tak sempat aku sadari. Namun cukuplah bagiku mendapat satu ekor Grass Karp. Tak mengapa, toh kalau dapat banyak mau di apain neh ikan...

Ikan GrassKarp sang predator lumut ganggang dari Dieng Plateau

Ikan-ikan lain yang berhasil aku pancing di telaga Merdada ini antara lain satu ikan Kaviet (Puntius Wandersii), Tawes (Puntius Gonionotus), tapi ada yang aneh dari tawes-tawes yang aku dapat di sini. Dari empat tawes yang ku dapat, semuanya berekor panjang alias koncer...!! Entah mengapa bisa demikian..? Mungkin dulu waktu penebaran bibit tawes, kebanyakan benih mempunyai genetik koncer.

Tawes Kaviet (Puntius Wandersii) sebesar telapak tanganku...


Tawes berekor koncer banyak terdapat di telaga Merdada


Ikan apa ini...? Mungkinkah species yang belum terklasifikasi...?

Satu lagi yang mungkin bisa menjadi referensi baru. Aku berhasil mendapatkan satu ekor ikan unik, tekstur fisiknya seperti tawes tapi bertubuh gilig membulat dan memiliki warna kehitaman pada bagian punggungnya. Seperti ikan tombro tapi bermulut tawes. Aku tanyakan pada pemancing lain mengenai ikan ini, tapi tak ada satupun yang tahu.. Karena mereka rata-rata juga bukan penduduk asli Dieng. Apakah ini jenis species baru..? Bisa saja demikian, mengingat daerah dataran tinggi Dieng merupakan daerah pedalaman Jawa yang mempunyai iklim ekstrim, berbeda dengan tempat lain di Jawa. Sehingga membuat ikan-ikan mengalami evolusi karena penyesuaian habitatnya yang super dingin.. Ikan aneh ini ku masukkan dalam jerigen yang ku isi dengan oksigen bersama Kaviet dan Tawes koncernya dan kubawa pulang. Niatku ikan ini akan aku pelihara di aquariumku. Dan ternyata ikan ini bisa hidup di dalam aquarium sampai saat ini. Sampai sekarangpun aku belum tahu masuk dalam klasifikasi apa ikan ini. Mungkin di antara pembaca ada yang tahu scintifikasinya..?

Demikian kisah petualanganku di dataran tinggi Dieng... Salam dari Negeri di Awan..........


2 komentar:

  1. Mungkin ikan ini mas, Ikan Seluang (Osteochillus Schlegeli). Ikannya mirip nilem dan ikan mas jawa

    BalasHapus
  2. yang paling bawah ditempatku namanya bader, putihan atau wader :D

    BalasHapus

Selasa, 19 Oktober 2010

MANCING DI " NEGERI di AWAN " ( Dataran Tinggi Dieng / Wonosobo )

@El Fhivi Arvianto

厄爾尼諾愛維安


HARMONI ALAM YANG MENYENTUH


Negeri di awan...? Tentu sobat angler bertanya-tanya, dimanakah tempat itu.? Itulah salah satu tempat terindah di daerahku ( bukan promosi wisata looh...!! ). Tepatnya Dieng Plateau, dataran tinggi Dieng merupakan dataran tinggi tertinggi di Jawa. Di tempat inilah legenda para dewa bersemayam. Tidak salah bila orang menjuluki Dieng sebagai negeri di awan. Karena tempat ini hampir setiap hari selalu berkabut dengan dingin yang menusuk tulang. Suhu rata-rata setiap hari adalah 5 s/d 10 derajat celcius. Atau bahkan jika malam hari kadang bisa mencapai titik beku di bawah nol. Suatu situasi yang jarang ditemukan di Indonesia. Dataran tinggi Dieng memiliki beberapa telaga. Jika di hitung tak kurang dari 4 telaga yang lumayan besar. Antara lain telaga Sembungan, telaga Balekambang, telaga Merdada dan telaga Warna. Tapi yang kusebut terakhir ini (telaga Warna) tidak bisa dipancingi. Karena memang tidak ada ikan yang sanggup hidup di telaga yang kadar belerangnya sangat tinggi. Lokasi yang pertama aku kunjungi adalah telaga Sembungan. Menurut kabar penduduk setempat di telaga itu terdapat banyak ikan Bandung (ikan Mas/Cyprinus Carpio). Orang Dieng memang banyak yang menyebut ikan mas sebagai iwak Bandung atau iwak Kalper.

Sesampai di telaga Sembungan, dari kejauhan terlihat banyak burung Mliwis (Dendragcyna Javanic) yang beterbangan di atas telaga sambil menyambar ikan kecil-kecil. Tapi jangan harap sobat mancing berburu burung-burung Mliwis ini. Penduduk sekitar dan hukum adat setempat memberlakukan sanksi denda bagi pemburu burung. Itu masih ringan, kadang masih ditambah muka pada bonyok di gebukin pemuda kampung...!!!

Seorang pemancing "ngobok" di telaga Sembungan...

Melihat kondisi air telaga, aku tercengang melihat lingkungan sekitar telaga. Kondisi telaga sangat kotor dan berbau. Itu semua karena banyak penduduk yang membuang sisa-sisa pupuk kandang ke dalam telaga. Belum lagi air telaga banyak penyusutan akibat di sedot genset petani untuk mengairi lahan pertanian. Sungguh ironis, suatu tempat yang teramat indah ini, yang seharusnya mengundang wisatawan untuk datang. Malah tidak dijaga kelestarian dan kebersihan lingkungannya. Aku sendiri sungguh merasa jijik dengan air danau yang menghitam berbau. Apakah masih ada kehidupan di dalamnya.? Ternyata beberapa pemancing lokal ada yang sudah mendapatkan ikan mas kalper.
Mereka memancing dengan cara mirip model “ngobok” atau nyebur ke air. Walau hanya sebatas pinggang. Tapi yang jelas aku tidak akan melakukan hal serupa, mengingat aku sangat jijay dengan kondisi air yang kotor. Kalau memancing dari pinggiran, jangan harap akan di sambar ikan mas. Karena ikan mas hanya berada di tempat yang dalam. Sebenarnya melempar kail dari pinggir bisa saja mencapai tengah, tapi resikonya mata kail selalu nyangkut pada tanaman ganggang yang tumbuh subur di pinggiran telaga. Aku hanya mancing di pinggiran saja, walaupun hanya rela mendapat ikan mujahir (Oreochromis Mossambicus). Ternyata di telaga ini masih bisa ditemukan habitat ikan mujahir hitam (bukan nila). Walau mata kailku berkali-kali disambar ikan, tapi hanya beberapa ikan mujahir yang bisa kuperoleh. Mengingat sasaranku bukan ikan mujahir, maka akhirnya aku lepaskan lagi ikan-ikan yang kuperoleh ke habitatnya semula.

SEJENAK MELEPAS LELAH DI TEPI TELAGA WARNA

Sebelum menuju ke telaga Merdada, aku melewati telaga Warna. Kuputuskan untuk istirahat sekaligus makan siang di kompleks tersebut. Karena di pintu masuk telaga warna memang terlihat banyak warung-warung makan. Setelah makan siang, aku berjalan-jalan disekitar telaga. Suasana semakin dingin menggigit ketika kabut mulai turun. Terlihat air telaga disisi timur yang berwarna hijau dan di sisi barat berwarna biru, sedangkan ditengah malah cenderung kemerahan. Di telaga Warna inilah legenda Jawa terjadi. Menurut mitos, telaga Warna adalah tempat mandi bidadari khayangan. Gak masuk akal yaa...??
Inilah picture-ku di sekitar telaga Warna...

Rest at Colour Lake.... Beauty nature.....


Di telaga Warna inilah legenda tempat mandi para bidadari....??
(Gak mungkin lah yaa... Temperatur air super dingin uatiiiis banget kok...)


MUNGKINKAH ADA SPECIES BARU DARI TELAGA MERDADA
...??

Selanjutnya aku melanjutkan perjalanan ke telaga Merdada. Kira-kara perjalanan sejauh 8 km, sampailah aku di tepian telaga Merdada. Melihat tekstur geografis telaga, sepertinya telaga ini terbentuk dari bekas kepundan gunung berapi yang sudah lama mati. Menurut penelitian arkeologi, dataran tinggi Dieng memang bekas gunung berapi di zaman Jawa purba.. Menurut cerita dari para pemancing di sekitar telaga Merdada. Di telaga Merdada banyak terdapat ikan Grass Karp (Ctenopharyngodon Idella). Orang Dieng menyebut “Braskap”. Menurut cerita mereka, keberadaan ikan Gras Karp ini bermula dari penebaran benih Grass Karp oleh pabrik jamur PT. DIENG JAYA yang berdiri di sekitar telaga dan dilakukan rutin setiap tahun. Tapi semenjak pabrik jamur tersebut dinyatakan bangkrut, tradisi penebaran benih terhenti. Ikan Grass Karp yang ada sekarang tinggal sisa-sisa dan hasil pengembang-biakan alami. Penebaran ikan Gras Karp di dataran tinggi Dieng bukan tanpa alasan. Mengingat kondisi alam di dataran tinggi yang mirip zona subtropis, membuat tanaman air semacam lumut atau ganggang air bisa tumbuh menyebar dengan cepat. Jika tidak ditangani dengan tepat dalam waktu singkat telaga-telaga di Dieng sudah pasti tertutup tanaman ganggang ini. Maka solusi satu-satunya adalah dengan cara penebaran predator herbivora semacam ikan Grass Karp ini. Sehingga pertumbuhan ganggang air ini bisa terkendali dengan baik dan menjadi rantai makanan yang tak terputus.

Suasana telaga Merdada yang tenang dan terkesan angker....??


Pak tua menanti datangnya ikan dengan menahan rasa dingin menggigit.


Partner mancingku, Risa Oi... Ngalamun ajaaah coy....

Sedang asyik-asyiknya ngobrol dengan pemancing lain, tiba-tiba joranku ambruk ke tanah. Dengan gerakan cepat aku menangkap joranku yang hampir terseret ke tengah telaga. Uuups.. untung masih bisa kutangkap..!! Dari kejauhan bisa kutebak strike yang kudapat. Seekor ikan Grass Karp melenting ke udara memberontak mencoba melepaskan diri dari mata kailku. Dengan perlahan, aku mengendorkan reel-ku agar ikan tidak terlalu kencang memberontak. Perlahan tapi pasti ikan bisa aku pinggirkan ke tepian. Dan dengan perlahan ikan bisa ku angkat ke daratan. Ku perkirakan beratnya sekitar 1,5 kg.. Dengan panjang sekitar 60 cm... Sementara pemancing-pemancing lain yang mancing dengan serius, mereka bisa menaikkan Grass Karp minimal dua ekor.. Sedangkan aku..? Karena lebih banyak meladeni ngobrol pemancing lain, aku tidak cukup konsentrasi terhadap joranku. Bahkan kadang umpan habis pun tak sempat aku sadari. Namun cukuplah bagiku mendapat satu ekor Grass Karp. Tak mengapa, toh kalau dapat banyak mau di apain neh ikan...

Ikan GrassKarp sang predator lumut ganggang dari Dieng Plateau

Ikan-ikan lain yang berhasil aku pancing di telaga Merdada ini antara lain satu ikan Kaviet (Puntius Wandersii), Tawes (Puntius Gonionotus), tapi ada yang aneh dari tawes-tawes yang aku dapat di sini. Dari empat tawes yang ku dapat, semuanya berekor panjang alias koncer...!! Entah mengapa bisa demikian..? Mungkin dulu waktu penebaran bibit tawes, kebanyakan benih mempunyai genetik koncer.

Tawes Kaviet (Puntius Wandersii) sebesar telapak tanganku...


Tawes berekor koncer banyak terdapat di telaga Merdada


Ikan apa ini...? Mungkinkah species yang belum terklasifikasi...?

Satu lagi yang mungkin bisa menjadi referensi baru. Aku berhasil mendapatkan satu ekor ikan unik, tekstur fisiknya seperti tawes tapi bertubuh gilig membulat dan memiliki warna kehitaman pada bagian punggungnya. Seperti ikan tombro tapi bermulut tawes. Aku tanyakan pada pemancing lain mengenai ikan ini, tapi tak ada satupun yang tahu.. Karena mereka rata-rata juga bukan penduduk asli Dieng. Apakah ini jenis species baru..? Bisa saja demikian, mengingat daerah dataran tinggi Dieng merupakan daerah pedalaman Jawa yang mempunyai iklim ekstrim, berbeda dengan tempat lain di Jawa. Sehingga membuat ikan-ikan mengalami evolusi karena penyesuaian habitatnya yang super dingin.. Ikan aneh ini ku masukkan dalam jerigen yang ku isi dengan oksigen bersama Kaviet dan Tawes koncernya dan kubawa pulang. Niatku ikan ini akan aku pelihara di aquariumku. Dan ternyata ikan ini bisa hidup di dalam aquarium sampai saat ini. Sampai sekarangpun aku belum tahu masuk dalam klasifikasi apa ikan ini. Mungkin di antara pembaca ada yang tahu scintifikasinya..?

Demikian kisah petualanganku di dataran tinggi Dieng... Salam dari Negeri di Awan..........


2 komentar:

  1. Mungkin ikan ini mas, Ikan Seluang (Osteochillus Schlegeli). Ikannya mirip nilem dan ikan mas jawa

    BalasHapus
  2. yang paling bawah ditempatku namanya bader, putihan atau wader :D

    BalasHapus